Rabu, 19 November 2008

Resep langgeng nikah usia dini

To live happily ever after bukan isapan jempol belaka.

Seorang teman berkomentar agak sinis saat menyaksikan tayangan infotainment tentang pasangan artis muda yang memutuskan untuk menikah. "Alaaa, paling nanti juga cerai."

"Hus, kamu kok bisa-bisanya ngomong gitu. Wong mereka saling jatuh cinta, biarin aja kalau mereka mau nikah," kawan lain berujar. Si teman pun makin ngotot mempertahankan pendapatnya "Lo, aku kan cuma bicara fakta, banyak, kan, orang yang menikah muda terus cerai!"

Sebenarnya anggapan pernikahan dini identik dengan perceraian tidak mutlak kebenarannya. Namun kita pun tidak bisa menutup mata kalau memang ada alasan di balik pernyataan itu. Yang menarik untuk dibahas, seberapa dini pernikahan dini itu. Sebab setiap masa memiliki kriterianya sendiri. Pada tahun 70-an, katakanlah, banyak pasangan yang sudah menikah di usia 16-18 tahun. Jadi kala itu, menikah di bawah 20 tahun tidak dianggap sebagai pernikahan dini. Nah, di tahun 90-an atau 2000-an sekarang, kebanyakan pasangan baru menikah di atas 25, bahkan 30 tahun. Tak heran, pasangan yang menikah di bawah 20 tahun akan dianggap "kecil-kecil kok jadi manten".

Sebenarnya, berapa pun usia seseorang menikah tidak dapat menjadi patokan langgeng tidaknya rumah tangga yang ia bina. A. Kasandra. Oemarjoedi, seorang psikolog keluarga, mengakui pernikahan memang sarat problematika. Siapa pun yang menjalaninya entah pasangan muda atau pasangan lanjut usia sekalipun tetap memiliki tantangan untuk mengatasi setiap permasalahan yang muncul. Banyak yang berhasil namun tak sedikit pula yang memilih bercerai.

Nah, kalau Anda tergolong menikah di usia muda (baru lulus kuliah langsung menikah) ada tip bijak dari Kasandra agar gejolak "darah muda" tak lantas jadi kendala.

Membentuk kedewasaan. Tanpa kedewasaan, dapat dipastikan suami istri akan sulit menyelesaikan masalah rumah tangganya dengan bijak. Tantangan dalam sebuah perkawinan adalah bagaimana suami dan istri mau menyatukan berbagai perbedaan yang mereka miliki; entah itu karakter, gaya hidup, kebiasaan-kebiasaan, ekonomi, pandangan hidup, dan lain-lain. Dengan kata lain, kedewasaan dalam hal ini adalah kemampuan menunjukkan sikap toleransi dan saling menghargai antarpasangan. Bila tidak, gara-gara masalah sepele seperti tidak meletakkan handuk pada tempatnya, tidur ngorok, atau sering lupa janji dapat memicu berbagai pertengkaran. Apalagi jika buah hati telah hadir. Persoalan akan semakin ruwet, karena tanggung jawab dan masalah yang dihadapi lebih besar lagi.

Kestabilan emosi. Berdasarkan penelitian, kestabilan emosi umumnya terjadi pada usia 24 tahun. Ini karena di usia itu seseorang mulai memasuki tahap dewasa. Masa remaja sendiri baru berakhir pada usia 19 tahun. Lalu usia 20-24 tahun dalam psikologi dikatakan sebagai masa usia dewasa muda. Di usia inilah banyak timbul transisi dari masa remaja ke masa dewasa yang lebih stabil. Kesimpulannya, usia di bawah 20 tahun merupakan usia seseorang masih menemukan jati dirinya atau emosinya belumlah stabil. Padahal, stabilitas emosi adalah kunci sukses langgengnya perkawinan. Dengan emosi yang mantap, pasangan bisa menyelesaikan masalah apa pun dengan lebih tenang dan jernih. Masing-masing pihak mencari solusi, bukan menuruti egonya sendiri.

Lain hal jika emosi pasangan masih labil, maka sulit menangani banyak persoalan. Persoalan sepele cederung dipandang sebagai permasalahan besar. Ada persoalan sedikit saja langsung dihadapi dengan emosi tinggi. Tersinggung sedikit saja langsung minta dipulangkan ke rumah orangtua. Tidak pernah ada penyelesaian yang baik.

Emosi yang labil juga kerap membuat pasangan posesif. Suami/istri menganggap pasangannya adalah benda berharga. Harus dipagari dan tidak boleh disentuh orang lain. Sedikit saja pasangan berinteraksi dengan lawan jenis, maka pasangan bisa melampiaskannya dengan luapan kemarahan.

Percaya diri. Di balik gembar-gembor perceraian selebriti muda, banyak juga pasangan yang memulai rumah tangga di usia 20-an bertahan dalam ikatan pernikahan mereka. Itu karena di balik wajah yang masih imut-imut, terdapat rasa percaya diri bahwa mereka mampu mandiri membina keluarga yang utuh. Kematangan berpikir, keterampilan bersosialisasi, dan pengendalian emosi tak akan berarti tanpa rasa percaya diri bahwa "aku mampu".

Bahu-membahu. Tentu, masing-masing suami dan istri harus saling mendukung dalam membangun rumah tangga. Bukan saling menghancurkan jika sedang kesal satu sama lain. Bahu-membahu juga bukan saling melemparkan tanggung jawab jika sedang menemukan masalah. Yang dibutuhkan adalah saling melengkapi bukan saling mengandalkan. Dengan begitu, niscaya rumah tangga bisa berjalan dengan baik. Ungkapan, ...and they live happily ever after yang kerap menjadi kalimat penutup dongeng pernikahan pangeran dan putri belia tak lagi sekadar isapan jempol.

Saeful Imam. Foto: Agus/nakita


Tidak ada komentar: